IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis <p>The Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies, is published by Badan Pengelola Masjid Istiqlal Jakarta (Istiqlal Mosque Management Board) provides a scholarly platform for discourse in Mosque and Islamic Studies. It encompasses a wide array of topics, including Islamic Education, Islamic Law, Islamic Economics and Business, Qur'anic and Hadith, Islamic Philosophy, Islamic Thought and Literature, Islam and Peace, Science &amp; Civilization in Islam, Islam in local/national contexts, and Islam and gender. Through this diverse range of subjects, the journal aims to foster comprehensive discussions and promote interdisciplinary research within the field of Islamic Studies. This journal is published twice a year in February and August.</p> en-US [email protected] (idil hamzah) [email protected] (Muh. Asdar) Thu, 29 Aug 2024 00:00:00 +0000 OJS 3.3.0.20 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Integrasi Teks dan Konteks Asbabunnuzul Terhadap Justifikasi Dalil Agama Pelaku Terorisme https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/14 <p class="p1">Tulisan ini mengulas mengenai peran penting asbabunnuzul didukung oleh latar kesejarahan di mana Al-Qur’an diturunkan. Memperhatikan teks dan konteks ayat menjadi salah satu upaya untuk menemukan pemahaman ayat. Termasuk ayat Al-Qur’an yang disalahpahami dan dijadikan dasar untuk melakukan aksi terorisme. Tujuannya dalam rangka jihad di jalan Allah dengan ragam jenis yang sering terjadi di Indonesia termasuk peristiwa bom bunuh diri. Dua dalil yang sering digunakan: rangkaian ayat dari QS. al-Baqarah (2): 190-193 dan QS. al-Maidah (5): 44. Tentang kebolehan untuk berperang dan berhukum atas hukum Allah. Jenis penelitian yang digunakan dalam tulisan ini ialah kualitatif dengan instrumen kerja deskrptif-analitis. Termasuk dalam penelitian yang menggunakan data pustaka (<em>library research</em>). Selanjutnya<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>mempertanyakan mengenai<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>teks dan konteks asbabunnuzul dalil dari ayat Al-Qur’an yang digunakan oleh pelaku terorisme. Hal ini dilihat dengan berdasar pada pemahaman asbabunnuzul <em>khassah</em> dan asbabunnuzul <em>‘ammah </em>sebagai mana pemahaman Imam Syatibi, juga yang disebutkan oleh al-Dahlawi dengan asbabunnuzul <em>juz’i</em> dan asbabunnuzul <em>haqiqi</em> dan asbabunnuzul mikro makro yang disebutkan oleh scholar Islam kontemporer. Selanjutnya dengan pemamaham Imam Syatibi implementasi dan penerapannya, berdasarkan teks dan konteks (<em>tatbiq</em>). Dua dalil yang sering digunakan para kaum radikal atau pelaku aksi terorisme ini memiliki peristiwa dibaliknya. Rangkaian QS al-Baqarah (2): 190-193 peristiwa Hudaibiyah ketika sahabat khawatir akan diperangi oleh kafir Quraisy maka ayat turun untuk membolehkan perang dengan syarat ketentuannya. QS. al-Maidah (5): 44 berkenaan dengan peristiwa ketidakinginan sahabat untuk menerapkan hukum rajam. Ayat turun sebagai respon untuk menerapkan hukum yang berlaku. Dalil yang digunakan pelaku terorisme, dari segi konteksnya tidak mampu mengakomodir alasan pembenar jihad menurut pandangan mereka. Dilihat juga dari konteks Indonesia di mana ‘dipaksa’ untuk diterapkan, tidaklah sesuai. Mengingat Indonesia sebagai negara merdeka memiliki hukum dan aturannya sendiri, yang tentu saja sudah menjadi bagian dari cita-cita bangsa secara umum.</p> Misbah Hudri Copyright (c) 2026 IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/14 Thu, 29 Aug 2024 00:00:00 +0000 Koeksistensi Manusia Dan Lingkungan: (Pengalaman Tadabbur Alam PKUMI) https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/10 <p>Krisis ekologi telah menjadi isu global yang menjadi perhatian seluruh dunia<strong>. </strong>Krisis tersebut tidak lepas dari hubungan tidak harmonis antara manusia dan lingkungannya, sebagai akibat dari paradigma yang berorentasi materialistik maupun karena keserakahan manusia itu sendiri. Merespon persoalan tersebut, para ahli telah menawarkan solusi berbasis kultural dan agama. Namun kesadaran ekologis di tengah masyarakat masih terbilang rendah. Tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan peran tadabbur alam PKU-MI sebagai salah satu <em>best practice </em>dalam internalisasi nilai-nilai ekologis kepada mahasantri. Tulisan ini adalah kualitatif dengan model studi kasus. Pastisipan penelitian ini adalah peserta tadabbur alam PKU-MI yang terdiri dari 50 orang yang terbagi dalam enam kelompok. Melalui pendekatan sosio-sufistik dengan tekhnik wawancara, observasi dan dokumen tertulis, penelitian menegaskan bahwa tadabbur alam PKU-MI sangat efektif dalam peningkatan kesadaran ekologis mahasantri. Kesadaran itu tumbuh melalui penguatan teori, pelepasan masa lalu, bersahabat dengan malam, muhasabah, sinergi energi dan praktek. Proses tersebut merupakan salah satu trategi internalisasi nilai-nilai positif kepada mahasantri yang terjadi melalui tahapan <em>takhalli</em>, <em>tahalli</em>, dan <em>tajalli</em>. Selain itu, tulisan ini juga menunjukkan bahwa tadabbur alam tidak hanya menumbuhkan pemahaman tentang spiritualitas lingkungan (ekologi), tapi juga meningkatkan kesejahteraan psikologis sebagai aspek penting dalam upaya konservasi lingkungan. Dengan demikian, tulisan ini menyimpulkan bahwa kesadaran ekologis memiliki hubungan erat dengan kesejahteraan psikologis.</p> Darlis Copyright (c) 2026 IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/10 Thu, 29 Aug 2024 00:00:00 +0000 Qur’anic Perspectives on Interfaith Marriage https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/17 <p>This study investigates the complex issue of interfaith marriage through a comparative analysis of two prominent Tafsīr works: <em>Tafsīr Ibn Kathīr</em> and <em>al-Munīr</em> by Wahbah al-Zuḥaylī. Ibn Kathīr’s exegesis adopts a conservative stance, strictly prohibiting marriages between Muslims and non-Muslims, emphasizing the preservation of faith, religious identity, and adherence to traditional legal rulings. In contrast, al-Zuḥaylī’s <em>al-Munīr</em> offers a more contextual and flexible perspective, acknowledging the social realities, pluralistic dynamics, and interreligious interactions characteristic of contemporary societies. Using qualitative content analysis, this study examines the underlying principles, interpretive methodologies, and hermeneutical reasoning employed by each scholar, highlighting the interplay between textual fidelity and contextual considerations. The findings suggest that while Ibn Kathīr prioritizes legal and doctrinal certainty, al-Zuḥaylī emphasizes social cohesion and pragmatic ethics, illustrating how exegetical thought evolves in response to historical, cultural, and societal changes. This comparative framework underscores the importance of fostering dialogue between rigid and contextual interpretations, advocating for approaches that harmonize religious adherence with the principles of tolerance, mutual respect, and coexistence. Beyond legal discourse, interfaith marriage is thus framed as a potential avenue for enhancing interreligious understanding, promoting social integration, and enabling individuals to exercise agency in choosing life partners while navigating the delicate balance between faith and pluralism. This study contributes to ongoing debates in Islamic jurisprudence, modern ethics, and interfaith relations, offering insights for scholars, policymakers, and communities seeking to reconcile tradition with contemporary social realities.</p> Siti Rifatusssaadah Sitorus Pane Copyright (c) 2026 IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/17 Thu, 29 Aug 2024 00:00:00 +0000 Penguatan Peran Hai’ah Lughawiyah Pesantren dalam Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Arab Santri PTUQI Bogor https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/19 <p>Penguatan ini bertujuan untuk untuk melakukan pendampingan kepada beberapa anak di Pondok Tahfidz Ummul Quro Al-Islami Bogor dalam membentuk <em>hai’ah lughawiyah</em>. Model penguatan peran Ma’had dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Arab santri tahfidz PTUQI Bogor diwujudkan dalam bentuk, sosialisasi dan Indoktrinasi terus menerus dari dewan pengurus kepada mahasantri tentang pentingnya bahasa asing termasuk bahasa Arab, figur pimpinan yang <em>welcome </em>dengan segala macam inovasi terkait kegiatan kebahasaan demi terciptanya eskalasi prestasi santri, segala macam keterbatasan sarana dan prasarana di lingkungan asrama Ma’had selalu teratasi berkat kerjasama antar unit/lembaga, terdaftarnya Ma’had dalam organisasi Forum Mudir Ma’had PTUQI, optimalisasi tutor sebaya untuk mengisi kekosongan waktu yang tidak mungkin diisi atau didampingi oleh musyrif pengurus ma’had. Model penguatan peran Ma’had dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Arab dilakukan dengan sosialisasi dan indoktrinasi tentang pentingnya bahasa asing, figur pimpinan yang <em>welcome </em>dengan segala macam inovasi, sertaoptimalisasi tutor sebaya untuk mengisi kekosongan SDM guru ahli. Sikap dan kebijakan pimpinan lembaga berorientasi pada peningkatan kualitas siswa yang dipondokkan dan diberdayakan di Ma’had Tahfidz. Namun sarana yang dibutuhkan masih perlu dilengkapi lagi, karena keberadaan sarana penunjang menjadi bagian tidak terpisahkan dari proses pembelajaran dan keberhasilan program bahasa Arab santri. Laboratorium juga menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menunjang keberhasilan. Juga praktik berbahasa Arab secara rutin dan konsisten perlu ditingkatkan. Sistem penilaian keberhasilan perlu dibuatkan SOP sebagai pedoman penilaian. Peminatan program yang spesifik juga perlu dilakukan supaya spesifik dan fokus dalam pengembangannya.</p> Muh. Abrar, Asriani Copyright (c) 2026 IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/19 Thu, 29 Aug 2024 00:00:00 +0000 Wasatiyyah as Architectural Representation: The Case of Istiqlal Mosque https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/23 <p>The principle of <em>wasatiyyah</em>—understood in Islam as the ethical path of balance, restraint, and justice—has been widely explored in theology, law, and moral philosophy. However, its translation into architectural practice, particularly in modern mosque design, remains insufficiently examined. This paper aims to investigate how <em>wasatiyyah</em> is materially and spatially embodied in the architecture of the Istiqlal Mosque in Jakarta, Indonesia, and to demonstrate that moderation can function as a rigorous design framework rather than a purely symbolic ideal. Using a <strong>qualitative, theory-driven case study approach</strong>, this research analyzes architectural drawings, historical records, scholarly literature, and spatial configurations of the mosque. The principle of <em>wasatiyyah</em> is operationalized through thematic categories—monumentality and humility, tradition and modernity, local climate and technological restraint, symbolic meaning and functional clarity—which are then applied to the mosque’s urban orientation, spatial hierarchy, material choices, stylistic synthesis, and environmental strategies. The findings reveal that Istiqlal Mosque performs <em>wasatiyyah</em> through a carefully balanced architectural system. Monumental scale is moderated by minimalist material expression; global Islamic symbols such as the dome are integrated with local climatic responsiveness; and modern structural technologies are employed without displacing ethical restraint. Rather than relying on the visual replication of historical mosque forms, Istiqlal conveys Islamic identity through proportional balance, spatial ethics, and environmental responsibility. This study argues that Istiqlal Mosque represents a paradigmatic model of architectural moderation, where <em>wasatiyyah</em> is not merely represented but actively enacted through design. By positioning <em>wasatiyyah</em> as an analytical lens for contemporary mosque architecture, this paper contributes to both Islamic thought and architectural theory, offering a framework for ethically grounded, context-sensitive religious design in the modern world.</p> Eya Benlakhdhar, Ahmad Shaleh Amin Copyright (c) 2026 IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/23 Thu, 29 Aug 2024 00:00:00 +0000 Revisiting Gender Equality in the Qur’an: A Contextual Reading of Nasaruddin Umar’s Thought https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/22 <p>The book <em>Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an</em> by Nasaruddin Umar stands as one of the most influential works in contemporary Islamic discourse in Indonesia, particularly in the field of Qur’anic exegesis from a gender equality perspective. Originating from the author’s doctoral dissertation in Qur’anic studies, this work not only offers a rigorous academic analysis but also proposes a new intellectual framework capable of bridging sacred texts with modern social dynamics. In the context of growing global awareness of gender justice, this book remains highly relevant and continues to serve as a key reference for interpreting the Qur’an in a manner that is just, contextual, and humanistic.</p> Nur Rofi'ah Copyright (c) 2026 IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies https://journal.istiqlal.or.id/index.php/ijmis/article/view/22 Thu, 29 Aug 2024 00:00:00 +0000